Seorang pencuri mendatangi sebuah daerah hunian hendak melakukan aktivitasnya. Matanya tertuju kepada seorang bocah laki-laki yang sedang duduk di dalam pintu rumahnya, lehernya tergantung seuntai kunci. Ia coba melangkah ke depan dan bertanya: "Nak, Bapakmu apa ada di rumah?"
"Bapakku tak ada di rumah," jawab bocah laki-laki itu.
"Aku adalah tukang periksa meteran listrik. Bolehkah aku masuk sebentar?" kata pencuri itu lebih lanjut.
"Sudah tentu boleh, masuklah..."
Bocah itu membukakan pintu untuknya, tapi baru saja si pencuri melongokkan kepalanya ke dalam, ia pun segera mundur selangkah lalu lari terbirit-birit. Bocah cilik itu berteriak-teriak mengejarnya: "Bapakku benar-benar tak ada di rumah. Mereka adalah Pakcik dan Pakdeku."
"Bapakku tak ada di rumah," jawab bocah laki-laki itu.
"Aku adalah tukang periksa meteran listrik. Bolehkah aku masuk sebentar?" kata pencuri itu lebih lanjut.
"Sudah tentu boleh, masuklah..."
Bocah itu membukakan pintu untuknya, tapi baru saja si pencuri melongokkan kepalanya ke dalam, ia pun segera mundur selangkah lalu lari terbirit-birit. Bocah cilik itu berteriak-teriak mengejarnya: "Bapakku benar-benar tak ada di rumah. Mereka adalah Pakcik dan Pakdeku."
Kategori: Cerita Humor Umum
Sent by: Peter Tan on May 18th, 2012
Sent by: Peter Tan on May 18th, 2012
Melihat Ibunya membeli setumpuk kentang, anaknya bertanya,
"Bu, buat apa beli kentang sedemikian banyaknya?"
Ibunya menjawab, "Sudah tentu untuk dimakan, dong! Masa kamu sudah lupa, waktu kamu masih kecil pernah sekali rebutan kentang dengan sapi di rumah Nenek, kan?"
Anaknya sangat terkejut mendengar perkataan ibunya, maka itu dia berkata, "Aduh, Bu, kejadian itu sekali-kali jangan Ibu ceritakan kepada orang lain, malu ah!"
Ibunya malahan berkata dengan bangganya, "Takut apa? Waktu itu kamu toh keluar sebagai pemenang!"
"Bu, buat apa beli kentang sedemikian banyaknya?"
Ibunya menjawab, "Sudah tentu untuk dimakan, dong! Masa kamu sudah lupa, waktu kamu masih kecil pernah sekali rebutan kentang dengan sapi di rumah Nenek, kan?"
Anaknya sangat terkejut mendengar perkataan ibunya, maka itu dia berkata, "Aduh, Bu, kejadian itu sekali-kali jangan Ibu ceritakan kepada orang lain, malu ah!"
Ibunya malahan berkata dengan bangganya, "Takut apa? Waktu itu kamu toh keluar sebagai pemenang!"
Kategori: Cerita Humor Umum
Sent by: Peter Tan on May 18th, 2012
Sent by: Peter Tan on May 18th, 2012
Anak: "Bu, bagaimana memahami makna kata 'harapan' dengan tepat?"
Ibu: "Mirip-mirip wajah Bapakmu waktu membeli lotre begitu, lah."
Anak: "Lalu, memahami arti kata 'kecewa' bagaimana Bu?"
Ibu: "Seperti wajah Bapakmu saat 'tak menang lotre'"
Anak: "Lalu bagaimana menghayati makna kata 'tak ada harapan', Bu"?
Ibu: "Bagaikan wajah Bapakmu kalau tidak ibu beri uang dan tak punya uang untuk membeli lotre..."
Ibu: "Mirip-mirip wajah Bapakmu waktu membeli lotre begitu, lah."
Anak: "Lalu, memahami arti kata 'kecewa' bagaimana Bu?"
Ibu: "Seperti wajah Bapakmu saat 'tak menang lotre'"
Anak: "Lalu bagaimana menghayati makna kata 'tak ada harapan', Bu"?
Ibu: "Bagaikan wajah Bapakmu kalau tidak ibu beri uang dan tak punya uang untuk membeli lotre..."
Kategori: Cerita Humor Umum
Sent by: Peter Tan on May 18th, 2012
Sent by: Peter Tan on May 18th, 2012

